Cara Menghitung Diskon: Rumus, Contoh, dan Batas agar Untung

Cara Menghitung Diskon: Rumus, Contoh, dan Batas agar Untung

Diskon adalah cara paling cepat untuk menarik pembeli. Tulisan "diskon 20%" di depan toko hampir selalu membuat orang menoleh. Namun banyak pemilik toko yang menyesal setelah promo selesai: toko ramai, barang laku banyak, tetapi keuntungan justru lebih kecil dari hari biasa, bahkan rugi.

Masalahnya biasanya bukan pada rumus diskon itu sendiri, karena rumusnya sederhana. Masalahnya ada pada dua hal yang sering terlewat: berapa sebenarnya margin barang yang didiskon, dan berapa tambahan penjualan yang dibutuhkan agar keuntungan tetap sama.

Artikel ini membahas cara menghitung diskon persen dan nominal, diskon bertingkat, cara mencari harga awal, batas diskon dari margin, dan cara memastikan promo tetap menguntungkan. Semua angka di artikel ini adalah contoh fiktif.

Jawaban singkat: besar diskon dihitung dengan mengalikan harga awal dengan persentase diskon, lalu harga setelah diskon adalah harga awal dikurangi potongan tersebut. Agar promo tetap untung, pastikan diskon lebih kecil dari selisih harga jual dan HPP, dan hitung berapa tambahan penjualan yang dibutuhkan untuk menutup margin yang hilang.

Bagaimana rumus menghitung diskon persen?

Diskon persen adalah potongan harga yang dinyatakan dalam persentase dari harga awal. Rumusnya:

Besar potongan = harga awal × persentase diskon

Harga setelah diskon = harga awal − besar potongan

Atau dalam satu langkah:

Harga setelah diskon = harga awal × (100% − persentase diskon)

Contoh fiktif: sebuah kaus dijual Rp120.000 dan diberi diskon 25%.

  • Besar potongan: Rp120.000 × 25% = Rp30.000
  • Harga setelah diskon: Rp120.000 − Rp30.000 = Rp90.000
  • Atau langsung: Rp120.000 × 75% = Rp90.000

Cara cepat menghitung di kepala: diskon 10% berarti geser koma satu angka. Dari Rp120.000, 10% adalah Rp12.000. Diskon 20% adalah dua kali angka itu, yaitu Rp24.000. Diskon 25% adalah seperempat harga, yaitu Rp30.000. Diskon 50% adalah setengah harga.

Tabel berikut merangkum beberapa persentase diskon yang sering dipakai, dengan contoh harga awal Rp100.000.

DiskonBesar potonganHarga setelah diskonPengali cepat
5%Rp5.000Rp95.000× 0,95
10%Rp10.000Rp90.000× 0,90
15%Rp15.000Rp85.000× 0,85
20%Rp20.000Rp80.000× 0,80
25%Rp25.000Rp75.000× 0,75
30%Rp30.000Rp70.000× 0,70
50%Rp50.000Rp50.000× 0,50

Bagaimana menghitung diskon nominal?

Diskon nominal adalah potongan dalam rupiah, bukan persen, misalnya "potongan Rp10.000". Cara menghitungnya lebih sederhana: kurangi harga awal dengan potongannya.

Harga setelah diskon = harga awal − potongan rupiah

Untuk membandingkan diskon nominal dengan diskon persen, ubah potongan menjadi persentase:

Persentase diskon = potongan rupiah ÷ harga awal × 100%

Contoh fiktif: potongan Rp10.000 untuk barang seharga Rp40.000 setara dengan diskon 25%, sedangkan potongan yang sama untuk barang seharga Rp200.000 hanya setara 5%.

Diskon nominal sering dipakai dengan syarat minimal belanja, misalnya potongan Rp10.000 untuk belanja minimal Rp100.000. Dalam contoh ini, diskon efektifnya paling besar 10% (jika pembeli belanja tepat Rp100.000), dan makin kecil jika belanjanya lebih besar.

Bagaimana menghitung diskon bertingkat?

Diskon bertingkat, misalnya "diskon 20% + 10%", sering disalahpahami sebagai diskon 30%. Padahal, diskon kedua dihitung dari harga setelah diskon pertama, bukan dari harga awal.

Contoh fiktif: harga awal Rp100.000 dengan diskon 20% + 10%.

  1. Diskon pertama 20%: Rp100.000 × 80% = Rp80.000
  2. Diskon kedua 10% dari Rp80.000: Rp80.000 × 90% = Rp72.000

Harga akhir Rp72.000 berarti total potongan Rp28.000, atau setara diskon 28%, bukan 30%.

Rumus cepat untuk diskon bertingkat:

Harga akhir = harga awal × (100% − diskon 1) × (100% − diskon 2)

Diskon bertingkatPengaliHarga akhir dari Rp100.000Setara diskon
10% + 10%0,90 × 0,90 = 0,81Rp81.00019%
20% + 10%0,80 × 0,90 = 0,72Rp72.00028%
30% + 20%0,70 × 0,80 = 0,56Rp56.00044%
50% + 20%0,50 × 0,80 = 0,40Rp40.00060%

Jika Anda memasang diskon bertingkat, pastikan staf kasir menghitungnya dengan urutan yang sama dan pembeli memahaminya, agar tidak terjadi perdebatan di kasir.

Bagaimana mencari harga awal dari harga setelah diskon?

Kadang yang diketahui hanya harga setelah diskon, misalnya saat Anda ingin memeriksa apakah harga coret yang dipasang sudah benar. Rumusnya:

Harga awal = harga setelah diskon ÷ (100% − persentase diskon)

Contoh fiktif: sebuah barang dijual Rp68.000 setelah diskon 15%. Harga awalnya adalah Rp68.000 ÷ 85% = Rp80.000.

Kesalahan yang sering terjadi adalah menambahkan 15% ke harga setelah diskon. Rp68.000 + 15% = Rp78.200, bukan Rp80.000. Karena itu, selalu gunakan pembagian, bukan penambahan.

Berapa batas diskon agar toko tidak rugi?

Di sinilah perhitungan diskon berhubungan langsung dengan keuntungan toko. Sebelum memasang diskon, Anda harus tahu margin setiap barang.

Laba per unit = harga jual − HPP

Margin = laba per unit ÷ harga jual × 100%

Diskon mengurangi harga jual, tetapi HPP tetap sama. Akibatnya, laba per unit berkurang sebesar potongan yang diberikan. Jika diskon sama dengan laba per unit, toko tidak untung sama sekali untuk barang itu. Jika diskon lebih besar, toko rugi untuk setiap barang yang terjual.

Contoh fiktif: sebuah barang dijual Rp50.000 dengan HPP Rp35.000. Laba per unit Rp15.000, atau margin 30%.

DiskonHarga setelah diskonLaba per unitKeterangan
0%Rp50.000Rp15.000Harga normal
10%Rp45.000Rp10.000Laba turun sepertiga
20%Rp40.000Rp5.000Laba tinggal sepertiga
30%Rp35.000Rp0Tidak untung sama sekali
40%Rp30.000−Rp5.000Rugi setiap unit terjual

Dari tabel ini terlihat bahwa diskon 20% untuk barang bermargin 30% sudah memangkas dua pertiga keuntungan per unit. Banyak pemilik toko tidak menyadari hal ini karena hanya melihat harga, bukan margin.

Ilustrasi diskon memotong laba per barang

Berapa tambahan penjualan yang dibutuhkan agar promo tetap untung?

Diskon hanya masuk akal jika penjualan naik cukup banyak untuk menutup laba per unit yang berkurang. Rumus untuk menghitung berapa kali lipat penjualan yang dibutuhkan agar total laba sama dengan sebelum diskon:

Kebutuhan penjualan baru = penjualan lama × laba per unit lama ÷ laba per unit setelah diskon

Contoh fiktif: dari tabel sebelumnya, toko biasanya menjual 100 unit per minggu dengan laba Rp15.000 per unit, sehingga total laba Rp1.500.000.

  • Dengan diskon 10%, laba per unit Rp10.000. Agar total laba tetap Rp1.500.000, toko harus menjual 1.500.000 ÷ 10.000 = 150 unit, atau naik 50%.
  • Dengan diskon 20%, laba per unit Rp5.000. Toko harus menjual 1.500.000 ÷ 5.000 = 300 unit, atau naik tiga kali lipat.

Pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur sebelum memasang diskon: apakah promo ini realistis menaikkan penjualan sebanyak itu? Jika tidak, pertimbangkan diskon yang lebih kecil, diskon untuk barang bermargin lebih tinggi, atau syarat minimal belanja.

Perlu diingat juga bahwa promo kadang bertujuan lain, misalnya menghabiskan stok yang mendekati kedaluwarsa atau menarik pelanggan baru. Dalam kasus seperti ini, laba promo boleh lebih kecil, tetapi tujuannya harus jelas dan hasilnya diukur.

Baca juga: Bingung Cara Menghitung Laba Bersih? Ini Rumusnya!

Barang apa yang layak diberi diskon?

Tidak semua barang cocok didiskon. Memilih barang yang tepat membuat promo lebih efektif dan margin lebih terjaga.

  • Barang bermargin tinggi. Barang dengan selisih harga jual dan HPP yang besar masih menyisakan laba setelah didiskon.
  • Barang lambat laku. Stok yang lama tidak terjual menahan modal. Diskon membantu mengubahnya kembali menjadi uang.
  • Barang mendekati kedaluwarsa. Lebih baik dijual dengan potongan daripada terbuang.
  • Barang pemancing. Satu atau dua barang yang sering dicari bisa didiskon untuk menarik pembeli, dengan harapan mereka membeli barang lain dengan harga normal.
  • Barang musiman. Barang yang hanya laku di musim tertentu sebaiknya dihabiskan sebelum musimnya lewat.

Sebaliknya, hindari diskon besar untuk barang bermargin tipis dan barang yang sudah laris tanpa promo. Untuk barang seperti ini, diskon hanya mengurangi laba tanpa menambah penjualan yang berarti.

Bagaimana menghitung diskon di Excel atau kalkulator?

Untuk banyak barang sekaligus, menghitung diskon di spreadsheet lebih cepat. Misalkan harga awal ada di kolom A dan persentase diskon di kolom B (ditulis sebagai persen, misalnya 20%).

Yang dihitungRumus di sel C2Contoh hasil (A2 = 100.000, B2 = 20%)
Besar potongan=A2*B220.000
Harga setelah diskon=A2*(1-B2)80.000
Harga awal dari harga diskon=A2/(1-B2)125.000 (jika A2 berisi harga setelah diskon)

Di kalkulator biasa, harga setelah diskon 20% bisa dihitung dengan mengalikan harga awal dengan 0,8. Untuk diskon 15%, kalikan dengan 0,85, dan seterusnya.

Jenis promo diskon apa yang bisa dipakai toko?

Selain diskon persen dan nominal, ada beberapa bentuk promo yang umum dipakai toko. Setiap bentuk punya cara hitung dan dampak yang berbeda pada margin.

  • Diskon persen per barang. Mudah dipahami pembeli, tetapi bisa memangkas margin besar pada barang mahal.
  • Potongan rupiah dengan minimal belanja. Mendorong pembeli menambah belanja agar mencapai batas minimal.
  • Beli X gratis Y. Misalnya beli dua gratis satu. Hitung sebagai diskon efektif: membayar dua dan mendapat tiga berarti setara diskon sekitar 33% per unit.
  • Harga spesial. Barang tertentu dijual dengan harga khusus selama periode tertentu.
  • Harga coret. Menampilkan harga normal yang dicoret di samping harga promo, sehingga pembeli melihat besarnya potongan.

Apa pun bentuknya, terapkan langkah yang sama: hitung laba per unit setelah promo, perkirakan tambahan penjualan yang dibutuhkan, dan tetapkan periode promo yang jelas.

Bagaimana aplikasi kasir membantu mengelola diskon?

Menghitung diskon secara manual di kasir rawan salah, terutama saat antrean panjang atau ada beberapa jenis promo sekaligus. Diskon yang diberikan sembarangan oleh staf juga bisa menggerus keuntungan tanpa Anda sadari.

Di KasirXpert, mulai paket Pro, tersedia:

  • Diskon per item atau per nota, dengan batas yang bisa diberikan kasir tanpa PIN atasan. Diskon di atas batas tersebut membutuhkan persetujuan.
  • Promo dan voucher 4 jenis: diskon persen, potongan rupiah, beli X gratis Y, dan harga spesial. Promo bisa berjalan otomatis, memakai kode, atau dipilih kasir, lengkap dengan jadwal dan kuota.
  • Harga coret, untuk menampilkan harga normal di samping harga promo.

Untuk menghitung batas diskon dari margin, Anda perlu tahu HPP setiap barang. Untuk usaha kuliner, bahan baku dan resep dengan HPP dan laba kotor per menu tersedia mulai paket Growth.

Paket Pro tersedia dengan harga Rp74.000 per bulan. Rincian lengkap setiap paket ada di halaman harga, dan penjelasan fitur promo ada di halaman fitur promo dan pelanggan.

Setelah promo berjalan, bandingkan penjualan dan laba selama periode promo dengan periode sebelumnya. Data ini membantu Anda menentukan promo mana yang layak diulang dan mana yang sebaiknya tidak dipakai lagi.

Baca juga: Customer Reward: Definisi, Kenapa Penting, dan 5 Jenisnya

Kesalahan apa yang sering terjadi saat memberi diskon?

Hindari kesalahan berikut agar promo tidak berubah menjadi kerugian.

  • Tidak mengetahui margin barang. Diskon dipasang tanpa tahu HPP, sehingga bisa melebihi laba per unit.
  • Menganggap diskon bertingkat bisa dijumlahkan. Diskon 20% + 10% bukan 30%.
  • Mencari harga awal dengan penambahan. Harga awal dicari dengan pembagian, bukan menambahkan persentase.
  • Diskon terlalu lama. Pembeli menjadi terbiasa dan enggan membeli dengan harga normal.
  • Diskon untuk barang yang sudah laris. Barang yang laku dengan harga normal tidak perlu didiskon besar.
  • Tidak ada batas diskon untuk staf. Diskon yang diberikan bebas oleh staf sulit dikendalikan.
  • Tidak mengukur hasil promo. Tanpa perbandingan sebelum dan sesudah, Anda tidak tahu apakah promo benar-benar menguntungkan.

Kesimpulan

Menghitung diskon itu mudah: kalikan harga awal dengan persentase diskon, lalu kurangkan dari harga awal. Untuk diskon bertingkat, hitung secara berurutan, dan untuk mencari harga awal, gunakan pembagian.

Yang lebih penting adalah memastikan diskon tetap menguntungkan. Ketahui margin setiap barang, pastikan diskon lebih kecil dari laba per unit, dan hitung berapa tambahan penjualan yang dibutuhkan untuk menutup margin yang hilang. Tetapkan tujuan dan periode promo yang jelas, batasi diskon yang bisa diberikan staf, lalu ukur hasilnya. Dengan cara ini, diskon menjadi alat untuk menumbuhkan usaha, bukan menggerus keuntungan.

Pertanyaan umum

Bagaimana rumus menghitung diskon persen?

Besar potongan = harga awal × persentase diskon. Harga setelah diskon = harga awal − besar potongan, atau harga awal × (100% − persentase diskon).

Apakah diskon 20% + 10% sama dengan diskon 30%?

Tidak. Diskon bertingkat dihitung berurutan. Diskon 20% lalu 10% dari harga Rp100.000 menghasilkan Rp72.000, atau setara potongan 28%, bukan 30%.

Berapa batas diskon agar toko tidak rugi?

Diskon tidak boleh melebihi selisih antara harga jual dan HPP barang tersebut. Jika diskon sama dengan selisih itu, toko tidak untung sama sekali untuk barang tersebut.

Bagaimana cara mencari harga awal jika yang diketahui hanya harga setelah diskon?

Bagi harga setelah diskon dengan (100% − persentase diskon). Misalnya Rp80.000 setelah diskon 20% berarti harga awalnya Rp80.000 ÷ 80% = Rp100.000.

KasirXpert untuk pelanggan setiaSiap mempraktikkannya? Coba KasirXpert sekarang.

Buat pelanggan datang lagi. Coba semua fitur gratis 14 hari, tanpa kartu kredit, lalu pilih paket yang pas.

Ditulis olehTim KasirXpertTim produk & dukungan KasirXpert

Tim yang membangun KasirXpert dan mendampingi pemilik usaha memakainya. Menulis panduan fitur, pembaruan aplikasi, dan kabar terbaru KasirXpert.

Lihat semua 40 artikel
Baca juga

Artikel terkait