Cara Menentukan Harga Jual Produk: Rumus, Contoh, dan Kesalahannya

Banyak pemilik usaha menentukan harga jual dengan cara yang sama: melihat harga di toko sebelah, lalu menyesuaikan sedikit. Cara ini terasa aman, tetapi sering berakhir dengan toko yang ramai pembeli namun uangnya tidak bertambah. Penjualan jalan, tetapi untungnya tidak jelas ke mana.
Masalahnya, harga pesaing tidak tahu berapa modal Anda, berapa sewa tempat Anda, dan berapa banyak barang yang rusak atau kedaluwarsa di gudang Anda. Harga yang menguntungkan bagi toko lain bisa saja membuat toko Anda merugi pelan-pelan.
Artikel ini membahas cara menentukan harga jual langkah demi langkah: dari menghitung HPP, memahami beda markup dan margin, memilih metode penetapan harga, sampai contoh hitungan untuk toko kelontong dan kafe. Di bagian akhir ada daftar kesalahan yang paling sering membuat untung bocor.
Jawaban singkatnya: harga jual ditentukan dari tiga unsur, yaitu HPP (modal per unit), bagian biaya operasional, dan keuntungan yang Anda inginkan. Rumus paling praktis adalah harga jual = HPP ÷ (1 − margin yang diinginkan). Setelah itu, bandingkan hasilnya dengan harga pasar dan daya beli pelanggan sebelum menetapkan angka akhir.
Apa saja komponen harga jual?
Harga jual adalah harga yang dibayar pelanggan untuk satu unit produk atau layanan. Agar usaha untung, harga ini harus menutup semua biaya yang muncul untuk menghadirkan produk tersebut, lalu menyisakan keuntungan. Secara sederhana, harga jual terdiri dari tiga komponen berikut.
| Komponen | Isi | Contoh di toko kecil |
|---|---|---|
| HPP (harga pokok penjualan) | Modal langsung untuk satu unit produk | Harga beli barang, ongkos kirim dari pemasok, bahan baku, kemasan |
| Biaya operasional | Biaya menjalankan usaha yang tidak melekat pada satu produk | Sewa, listrik, gaji karyawan, internet, perawatan alat |
| Keuntungan | Sisa yang menjadi hasil usaha Anda | Persentase margin yang Anda tetapkan |

Kesalahan yang sering terjadi adalah hanya memperhitungkan komponen pertama. Harga beli Rp10.000 lalu dijual Rp12.000 terasa untung Rp2.000, padahal sebagian dari Rp2.000 itu sebenarnya habis untuk sewa dan listrik.
Bagaimana menghitung HPP sebelum menentukan harga jual?
HPP adalah titik awal semua perhitungan harga. Bila HPP salah, rumus apa pun yang Anda pakai setelahnya akan ikut salah. Cara menghitungnya sedikit berbeda untuk usaha dagang dan usaha yang mengolah bahan.
HPP untuk usaha dagang
Untuk toko yang membeli barang jadi lalu menjualnya kembali, HPP per unit adalah harga beli ditambah biaya yang dikeluarkan sampai barang siap dijual. Biaya ini bisa berupa ongkos kirim dari pemasok, biaya bongkar, atau kantong plastik khusus untuk produk tertentu.
Contohnya, Toko Berkah Jaya, toko kelontong fiktif, membeli satu karton minyak goreng berisi 6 botol 2 liter seharga Rp198.000, ditambah ongkos kirim Rp6.000 per karton. Maka HPP per botol adalah (Rp198.000 + Rp6.000) ÷ 6 = Rp34.000.
HPP untuk usaha yang mengolah bahan
Untuk kafe, warung makan, atau usaha kue, HPP dihitung dari semua bahan yang dipakai dalam satu porsi, ditambah kemasan. Kuncinya adalah menghitung bahan per takaran, bukan per kemasan beli.
Contohnya, Kopi Senja, kafe fiktif, menghitung HPP satu gelas es kopi susu seperti tabel berikut.
| Bahan | Takaran per gelas | Biaya |
|---|---|---|
| Biji kopi | 18 gram | Rp3.600 |
| Susu segar | 150 ml | Rp3.000 |
| Gula aren cair | 20 ml | Rp1.000 |
| Es batu, gelas, sedotan | 1 set | Rp1.500 |
| Total HPP | Rp9.100 |
Angka ini baru modal bahan. Bila Anda belum terbiasa menghitung bahan per gram atau per ml, mulailah dari menu terlaris lebih dulu, karena menu itulah yang paling besar pengaruhnya terhadap laba.
Baca juga: Cara Menghitung HPP Menu dengan Resep per Gram
Memasukkan biaya operasional
Biaya operasional tidak melekat pada satu produk, tetapi tetap harus tertutup oleh penjualan. Cara paling sederhana adalah memastikan margin yang Anda pasang cukup besar untuk menutup biaya bulanan pada jumlah penjualan normal.
Misalnya biaya operasional Kopi Senja Rp9.000.000 per bulan dan rata-rata terjual 1.500 gelas. Artinya, setiap gelas perlu menyumbang sekitar Rp6.000 hanya untuk menutup biaya operasional, sebelum ada keuntungan. Hitungan kasar ini membantu Anda melihat apakah margin yang direncanakan masuk akal.
Apa beda markup dan margin?
Dua istilah ini sering dianggap sama, padahal hasilnya berbeda jauh. Memahami perbedaannya akan mencegah Anda mengira untung 30% padahal sebenarnya jauh lebih kecil.
Markup: dihitung dari modal
Markup adalah persentase tambahan di atas HPP. Rumusnya:
Harga jual = HPP × (1 + markup)
Dengan HPP Rp10.000 dan markup 30%, harga jual menjadi Rp10.000 × 1,3 = Rp13.000. Keuntungannya Rp3.000 per unit.
Margin: dihitung dari harga jual
Margin adalah persentase keuntungan terhadap harga jual. Rumusnya:
Harga jual = HPP ÷ (1 − margin)
Dengan HPP Rp10.000 dan margin 30%, harga jual menjadi Rp10.000 ÷ 0,7 = sekitar Rp14.300. Keuntungannya Rp4.300 per unit, dan Rp4.300 itu memang 30% dari harga jual.
Tabel konversi markup ke margin
Perhatikan bahwa markup 30% hanya menghasilkan margin sekitar 23%. Tabel berikut membantu Anda membaca keduanya dengan benar.
| Markup dari modal | Margin dari harga jual | Contoh: HPP Rp10.000 menjadi |
|---|---|---|
| 20% | 16,7% | Rp12.000 |
| 25% | 20% | Rp12.500 |
| 30% | 23,1% | Rp13.000 |
| 50% | 33,3% | Rp15.000 |
| 100% | 50% | Rp20.000 |
Pilih salah satu cara dan gunakan secara konsisten. Banyak pemilik usaha lebih nyaman memakai margin, karena laporan laba juga dibaca sebagai persentase dari penjualan.
Baca juga: Cost of Goods Sold: Arti, Manfaat, Komponen, dan Contoh Hitungnya
Metode apa saja untuk menentukan harga jual?
Rumus memberi Anda harga minimum yang aman. Namun harga akhir sebaiknya juga mempertimbangkan pasar dan pelanggan. Berikut metode yang paling sering dipakai usaha kecil.
1. Cost-plus pricing
Ini metode yang sudah dibahas di atas: hitung HPP, lalu tambahkan markup atau margin. Kelebihannya, Anda yakin setiap penjualan menutup modal. Kekurangannya, metode ini tidak melihat apakah pelanggan mau membayar harga tersebut.
2. Harga berdasarkan pesaing
Anda melihat harga produk serupa di sekitar lokasi usaha, lalu menetapkan harga yang sejajar, sedikit di bawah, atau sedikit di atasnya. Metode ini cocok untuk barang yang mudah dibandingkan, seperti minyak goreng, beras, atau gula. Tetap hitung HPP lebih dulu agar Anda tahu batas bawah yang tidak boleh dilewati.
3. Harga berdasarkan nilai
Untuk produk yang punya ciri khas, misalnya kopi racikan sendiri atau kue buatan rumah, harga bisa ditentukan dari nilai yang dirasakan pelanggan. Suasana tempat, rasa, kemasan, dan pelayanan ikut menentukan berapa yang rela dibayar pelanggan. Metode ini memungkinkan margin lebih besar, tetapi perlu diuji dengan hati-hati.
4. Harga psikologis
Harga seperti Rp19.900 atau Rp49.000 terasa lebih murah daripada Rp20.000 atau Rp50.000, walau selisihnya kecil. Teknik ini umum di ritel. Pastikan saja pembulatan ke bawah tidak menggerus margin terlalu banyak, terutama untuk barang bermargin tipis.
5. Harga bertingkat untuk pembelian banyak
Untuk pelanggan yang membeli dalam jumlah besar, Anda bisa memberi harga per unit yang lebih rendah. Pelanggan senang, dan Anda mendapat perputaran barang lebih cepat. Pembahasan lengkapnya ada di bagian harga grosir di bawah.
Bagaimana contoh menentukan harga jual di berbagai jenis usaha?
Mari terapkan rumus dan metode di atas pada beberapa contoh fiktif. Angkanya hanya ilustrasi, jadi sesuaikan dengan kondisi usaha Anda.
Contoh 1: minyak goreng di toko kelontong
HPP per botol minyak goreng 2 liter di Toko Berkah Jaya adalah Rp34.000. Karena barang ini mudah dibandingkan, pemilik memakai margin tipis 8%. Harga jual = Rp34.000 ÷ 0,92 = sekitar Rp36.960, lalu dibulatkan menjadi Rp37.000.
Margin 8% terlihat kecil, tetapi minyak goreng terjual cepat dan membuat pelanggan datang. Keuntungan yang lebih besar kemudian didapat dari barang lain yang ikut dibeli, seperti camilan atau sabun.
Contoh 2: es kopi susu di kafe
HPP es kopi susu Kopi Senja adalah Rp9.100. Minuman racikan seperti ini biasanya memakai margin lebih besar karena ada nilai rasa dan suasana. Dengan margin 60%, harga jual = Rp9.100 ÷ 0,4 = Rp22.750.
Pemilik lalu melihat harga kafe sekitar yang berkisar Rp20.000 sampai Rp25.000, sehingga memilih Rp22.000. Margin di harga itu = (Rp22.000 − Rp9.100) ÷ Rp22.000 = sekitar 58,6%, masih sesuai rencana.
Contoh 3: harga di aplikasi ojol
Saat menjual lewat aplikasi ojol, ada potongan komisi dari setiap pesanan. Misalnya potongan yang berlaku 20%, dan Anda ingin pendapatan bersih per gelas tetap Rp22.000. Harga di ojol = Rp22.000 ÷ 0,8 = Rp27.500.
Bila harga di ojol disamakan dengan harga di toko, laba per gelas dari kanal ojol akan turun drastis. Karena itu banyak usaha memasang harga berbeda per kanal. Persentase potongan sebenarnya mengikuti ketentuan masing-masing aplikasi, jadi selalu cek angka yang berlaku untuk usaha Anda.
Contoh 4: usaha jasa
Untuk jasa seperti potong rambut atau cuci kendaraan, HPP terdiri dari bahan habis pakai ditambah upah atau komisi orang yang mengerjakan. Misalnya bahan habis pakai Rp3.000 dan komisi kapster Rp14.000 untuk layanan potong rambut. HPP-nya Rp17.000, sehingga harga Rp35.000 memberi margin sekitar 51% sebelum biaya operasional. Ringkasan keempat contoh tersebut terlihat seperti tabel berikut.
| Produk | HPP | Margin target | Harga jual akhir |
|---|---|---|---|
| Minyak goreng 2 liter | Rp34.000 | 8% | Rp37.000 |
| Es kopi susu (di toko) | Rp9.100 | 60% | Rp22.000 |
| Es kopi susu (di ojol, potongan 20%) | Rp9.100 | Menjaga pendapatan Rp22.000 | Rp27.500 |
| Potong rambut | Rp17.000 | ±50% | Rp35.000 |
Bagaimana memperhitungkan barang rusak dan kedaluwarsa?
Hampir setiap usaha punya barang yang tidak terjual: roti yang lewat tanggal, sayur yang layu, atau susu yang tumpah di dapur. Biaya ini nyata, tetapi sering tidak masuk ke perhitungan harga. Akibatnya, margin di atas kertas terlihat sehat, sedangkan uang di kas berkata lain.
Cara sederhananya adalah memperkirakan persentase barang yang biasanya terbuang, lalu memasukkannya ke HPP. Misalnya dari 100 roti yang dibuat setiap hari, rata-rata 5 tidak terjual. Bila modal satu roti Rp4.000, modal 100 roti adalah Rp400.000, tetapi yang terjual hanya 95. HPP sebenarnya per roti terjual menjadi Rp400.000 ÷ 95 = sekitar Rp4.210.
Selisih Rp210 per roti terlihat kecil. Namun bila margin Anda hanya 20%, selisih ini sudah memakan sebagian keuntungan setiap hari. Mencatat barang terbuang secara rutin membantu Anda melihat angka yang sebenarnya, bukan perkiraan.
Bagaimana menentukan harga saat baru membuka usaha?
Saat usaha baru dibuka, Anda belum punya data penjualan untuk dijadikan patokan. Dalam kondisi ini, gunakan langkah berikut agar harga awal tetap aman.
- Hitung HPP setiap produk. Mulailah dari 10–20 produk yang paling mungkin laku, bukan semuanya sekaligus.
- Perkirakan biaya operasional bulanan. Jumlahkan sewa, listrik, gaji, dan biaya rutin lain, lalu bandingkan dengan perkiraan jumlah penjualan per bulan.
- Tetapkan margin awal per kelompok produk. Barang kebutuhan pokok bisa bermargin tipis, sedangkan produk racikan atau jasa bisa lebih besar.
- Survei harga di sekitar lokasi. Catat harga produk serupa di tiga sampai lima tempat terdekat.
- Tetapkan harga, lalu evaluasi setelah satu bulan. Lihat produk mana yang laku, mana yang lambat, dan berapa laba yang benar-benar tersisa.
Jangan tergoda memasang harga sangat murah hanya agar ramai di awal. Harga yang terlalu rendah sulit dinaikkan kembali tanpa membuat pelanggan merasa kecewa. Lebih baik memberi promo pembukaan dengan jangka waktu yang jelas, sehingga harga normal tetap terjaga.
Bagaimana menentukan harga grosir?
Harga grosir diberikan untuk pembelian dalam jumlah tertentu. Prinsipnya, Anda rela mengambil margin lebih kecil per unit karena volume penjualannya besar dan barang cepat berputar.
Langkah sederhananya adalah menetapkan beberapa tingkat jumlah beli, lalu menurunkan margin sedikit demi sedikit di setiap tingkat. Pastikan tingkat terendah tetap di atas HPP ditambah bagian biaya operasional.
| Jumlah beli mi instan | Margin | Harga per bungkus (HPP Rp2.800) |
|---|---|---|
| 1–9 bungkus | 15% | Rp3.300 |
| 10–39 bungkus | 10% | Rp3.100 |
| 40 bungkus ke atas (1 dus) | 7% | Rp3.000 |
Agar tidak membingungkan kasir, tulis aturan harga bertingkat ini di sistem kasir, bukan di kertas yang ditempel. Di KasirXpert, harga grosir bertingkat tersedia mulai paket Basic, jadi harga per unit menyesuaikan sendiri sesuai jumlah yang dibeli.
Kesalahan apa yang sering terjadi saat menentukan harga jual?
Harga jual yang keliru jarang terasa dalam satu hari. Dampaknya baru terlihat setelah beberapa bulan, saat uang kas tidak bertambah walau toko terlihat ramai. Berikut kesalahan yang paling sering terjadi.
- Hanya menghitung harga beli. Ongkos kirim, kemasan, dan barang yang rusak tidak ikut dihitung, sehingga HPP sebenarnya lebih tinggi daripada yang Anda kira.
- Mengira markup sama dengan margin. Markup 30% dikira untung 30% dari penjualan, padahal margin sebenarnya hanya sekitar 23%.
- Mengikuti harga pesaing tanpa melihat modal sendiri. Toko lain mungkin mendapat harga beli lebih murah atau tidak membayar sewa.
- Lupa memperbarui harga saat modal naik. Harga beli dari pemasok naik, tetapi harga di rak tetap sama selama berbulan-bulan.
- Memberi diskon tanpa menghitung ulang margin. Diskon 10% pada produk bermargin 15% berarti laba per unit turun lebih dari setengahnya.
- Menyamakan harga di semua kanal. Harga di ojol disamakan dengan harga di toko, sehingga potongan komisi memakan sebagian besar laba.
Kesalahan nomor 5 sering luput. Dengan margin 15% dan HPP Rp8.500, harga jualnya sekitar Rp10.000 dan untungnya Rp1.500. Setelah diskon 10%, harga menjadi Rp9.000 dan untungnya tinggal Rp500.
Bagaimana memastikan harga jual sudah tepat?
Menetapkan harga bukan pekerjaan sekali jadi. Anda perlu memeriksa apakah harga itu benar-benar menghasilkan laba setelah dijalankan beberapa minggu. Di sinilah catatan penjualan yang rapi menjadi penting.
Lihat produk terlaris dan bandingkan dengan labanya
Produk yang paling laku belum tentu paling menguntungkan. Di Beranda KasirXpert, Anda bisa melihat penjualan hari ini dibanding kemarin, grafik 7 hari, dan produk terlaris di semua paket. Cocokkan daftar produk terlaris dengan margin masing-masing produk untuk melihat mana yang benar-benar menopang laba.
Baca laporan laba rugi sederhana
Mulai paket Basic, Pusat Laporan memungkinkan Anda membandingkan periode, mengekspor data ke CSV atau XLSX, dan melihat laba rugi sederhana. Bila omzet naik tetapi laba tidak ikut naik, itu tanda ada harga yang perlu ditinjau. Pengeluaran juga bisa dicatat lengkap dengan foto nota agar biaya operasional ikut terlihat. Penjelasan lengkapnya ada di halaman fitur laporan.
Hitung HPP dan laba kotor per menu
Untuk kafe dan usaha makanan, mulai paket Pro tersedia bahan baku dan resep per gram, ml, atau pcs. Aplikasi menghitung HPP dan laba kotor per menu, sehingga Anda tahu menu mana yang marginnya tipis tanpa menghitung manual setiap kali harga bahan berubah. Paket Pro seharga Rp99.000 per bulan.
Atur harga berbeda sesuai kebutuhan
Mulai paket Basic, KasirXpert mendukung harga grosir bertingkat, harga coret untuk menampilkan harga sebelum diskon, dan harga per outlet bila Anda punya lebih dari satu cabang. Untuk kafe dan resto, add-on Kafe & Restoran seharga Rp49.000 per bulan menyediakan harga dan komisi per kanal ojol. Pesanan ojol tetap dicatat manual di kasir, tetapi harga dan potongannya tercatat terpisah per kanal. Informasi add-on ada di halaman add-on.
Bagaimana menyesuaikan harga saat harga bahan naik?
Harga bahan dan barang dagangan hampir tidak pernah diam. Susu, gula, minyak, atau kemasan bisa naik beberapa kali dalam setahun. Bila harga jual tidak ikut disesuaikan, margin Anda pelan-pelan menyusut tanpa terasa.
Ambil contoh Kopi Senja. Harga susu naik sehingga biaya susu per gelas berubah dari Rp3.000 menjadi Rp3.600. HPP es kopi susu ikut naik dari Rp9.100 menjadi Rp9.700. Dengan harga jual tetap Rp22.000, margin turun dari sekitar 58,6% menjadi sekitar 55,9%.
Untuk mempertahankan margin 58,6%, harga jual baru seharusnya Rp9.700 ÷ 0,414 = sekitar Rp23.430, lalu dibulatkan menjadi Rp23.500. Namun pemilik tidak harus langsung menaikkan harga semua menu. Ada beberapa pilihan yang bisa dipertimbangkan:
- Naikkan harga menu yang paling terdampak saja. Menu yang memakai banyak susu disesuaikan, sedangkan menu lain tetap.
- Naikkan bertahap. Misalnya Rp500 sekarang dan Rp500 lagi beberapa bulan kemudian bila harga bahan belum turun.
- Cari pemasok atau ukuran kemasan lain. Membeli dalam kemasan lebih besar kadang menurunkan harga per ml atau per gram.
- Terima margin lebih kecil untuk sementara. Pilihan ini masuk akal bila kenaikan bahan diperkirakan hanya sebentar, tetapi tetapkan batas waktunya.
Apa pun pilihannya, keputusan sebaiknya diambil dari angka, bukan perasaan. Catat tanggal harga bahan naik, lalu bandingkan laba di laporan sebelum dan sesudah penyesuaian harga.
Bagaimana perbedaan margin di tiap jenis usaha?
Pemilik usaha sering bertanya berapa margin yang "normal". Jawabannya sangat bergantung pada jenis usaha, karena setiap usaha punya pola perputaran barang dan biaya yang berbeda. Tabel berikut hanya gambaran umum, bukan data statistik, untuk membantu Anda memahami polanya.
| Jenis usaha | Kecenderungan margin per produk | Alasannya |
|---|---|---|
| Toko kelontong dan minimarket | Tipis | Barang mudah dibandingkan, perputaran cepat |
| Kafe dan minuman racikan | Lebih besar | Ada nilai racikan, suasana, dan pelayanan |
| Warung makan | Sedang | Bahan segar, banyak tenaga dapur |
| Usaha jasa | Bervariasi | Biaya utama ada di tenaga kerja, bukan barang |
Margin tipis bukan berarti usaha tidak sehat. Toko kelontong bisa tetap menguntungkan karena volume penjualannya besar dan barang cepat berganti. Sebaliknya, margin besar per produk belum tentu menghasilkan laba besar bila penjualannya sedikit atau biaya operasionalnya tinggi.
Karena itu, jangan meniru margin usaha lain begitu saja. Hitung margin yang Anda butuhkan dari biaya operasional dan target laba Anda sendiri, seperti contoh perhitungan di bagian awal artikel ini.
Bagaimana menguji harga baru tanpa kehilangan pelanggan?
Menetapkan harga baru selalu mengandung risiko. Harga terlalu tinggi membuat pelanggan pindah, sedangkan harga terlalu rendah membuat usaha bekerja keras tanpa untung yang cukup. Cara paling aman adalah menguji harga dalam skala kecil sebelum diterapkan ke semua produk.
Mulailah dari produk baru atau satu menu tertentu. Tetapkan harga baru selama dua sampai empat minggu, lalu amati jumlah penjualannya. Bila penjualan turun sedikit tetapi laba total naik, harga baru kemungkinan lebih tepat. Bila penjualan turun tajam, pertimbangkan kembali harga atau cara menyampaikan nilainya kepada pelanggan.
Catatan penjualan yang rapi membuat pengujian ini jauh lebih mudah. Dengan fitur bandingkan periode di Pusat Laporan, yang tersedia mulai paket Basic, Anda bisa melihat penjualan sebelum dan sesudah perubahan harga berdampingan. Dengarkan juga masukan pelanggan dan kasir, karena mereka yang paling cepat merasakan reaksi pembeli.
Kapan sebaiknya menaikkan harga jual?
Menaikkan harga sering terasa menakutkan karena khawatir pelanggan pergi. Namun menahan harga terlalu lama saat modal naik justru lebih berbahaya bagi usaha. Berikut tanda bahwa harga perlu ditinjau.
- Harga beli dari pemasok naik. Hitung ulang HPP setiap kali ada kenaikan, walaupun kecil.
- Margin di laporan turun beberapa bulan berturut-turut. Ini tanda biaya naik lebih cepat daripada harga.
- Produk selalu habis lebih cepat dari perkiraan. Permintaan tinggi bisa berarti harga Anda masih di bawah nilai yang rela dibayar pelanggan.
- Biaya operasional naik. Misalnya sewa tempat naik atau ada karyawan baru.
Saat menaikkan harga, lakukan secara bertahap dan jelaskan dengan jujur bila perlu. Banyak pelanggan menerima kenaikan kecil yang wajar, terutama bila kualitas dan pelayanan tetap terjaga.
Kesimpulan
Cara menentukan harga jual yang sehat dimulai dari HPP yang dihitung dengan benar, lalu ditambah margin yang cukup untuk menutup biaya operasional dan menyisakan keuntungan. Pahami beda markup dan margin agar Anda tidak salah membaca untung, lalu sesuaikan hasil hitungan dengan harga pasar dan nilai yang dirasakan pelanggan.
Setelah harga berjalan, pantau hasilnya lewat catatan penjualan dan laporan laba. Tinjau ulang harga setiap kali modal atau biaya berubah, bedakan harga per kanal bila ada potongan komisi, dan hitung ulang margin sebelum memberi diskon. Dengan kebiasaan ini, keramaian toko benar-benar berubah menjadi keuntungan. Rincian paket KasirXpert untuk fitur laporan dan harga ada di halaman harga.
Pertanyaan umum
Apa rumus sederhana menentukan harga jual?
Dengan markup, harga jual sama dengan HPP dikali (1 + persentase markup). Dengan margin, harga jual sama dengan HPP dibagi (1 − persentase margin).
Apa beda markup dan margin?
Markup dihitung dari modal, sedangkan margin dihitung dari harga jual. Markup 30% dari modal Rp10.000 menghasilkan harga Rp13.000, tetapi margin di harga itu hanya sekitar 23%.
Berapa margin yang wajar untuk usaha kecil?
Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua usaha. Barang kebutuhan pokok biasanya bermargin tipis dengan perputaran cepat, sedangkan minuman racikan atau jasa umumnya bisa bermargin lebih besar.
Apakah harga di aplikasi ojol harus sama dengan harga di toko?
Tidak harus. Banyak usaha menaikkan harga di kanal ojol untuk menutup potongan komisi, sehingga laba per porsi tetap terjaga.
Seberapa sering harga jual perlu ditinjau ulang?
Tinjau setidaknya setiap kali harga beli dari pemasok berubah, dan lakukan pengecekan rutin misalnya setiap bulan dengan melihat laporan laba.
Laporan usaha siap tanpa rekap manual. Coba semua fitur gratis 14 hari, tanpa kartu kredit, lalu tetap gratis untuk 1 outlet.
Tim yang membangun KasirXpert dan mendampingi pemilik usaha memakainya. Menulis panduan fitur, pembaruan aplikasi, dan kabar terbaru KasirXpert.
Lihat semua 22 artikel

